Cool
brand pragatcomic
Thursday, 09 September 2010
 





Lost Password?
No account yet? Register
PENGUNJUNG
We have 17 guests online
KUNJUNGAN
Today :112
Month :1151
TOTAL :78399
 
Depan
Home
Contact Us
Komik
Cetak
Fotokopi
Mobile
Cerita
Bebas
Wisata
Workshop
Pameran
Kreatifitas
Ngomik
Prakarya
Komunitas
StarKom
Aksi
Karakter
Forum
Toko
Katalog
Tentang PragatComic

PragatComic web Pergerakan Cergam Baru, selain info tentang karya dari Text n Pict studio, juga berisi karya komikus / penerbit yang menitip jual komiknya, ditambah berita seputar perkembangan cergam. Ada Tarung Komik sebagai lomba komik setahun sekali, yang dimulai pada setiap bulan Agustus. Jangan lupa, ramaikan juga Forum diskusinya dengan info perkembangan komik terbaru dan terlengkap. Dan selamat berbelanja komik melalui Distro PragatComic.com.

 
forum pragatcomic
Grup Komikus Ponsel
>
Home arrow Fotokopi arrow Mahera dan Kitab Maharaja : TarKom 2
Strip
Untuk Komik Strip
Mahera dan Kitab Maharaja : TarKom 2 E-mail
Tuesday, 02 December 2008

Image
cover TarKom 2
Tarung Komik 2 dari Pragat Comic kini telah hadir di tengah-tengah kita melanjutkan Tarung Komik (TarKom) 1 yang sudah lebih dulu beredar beberapa tahun yg lalu. Kita turut senang bahwa PragatComic masih bersemangat untuk melanjutkan pertarungan komik. Lantas bagaimanakah TarKom 2 ini dibandingkan dengan TarKom 1?

Jika pada TarKom 1 hadir 10 (sepuluh) komik yg bertarung maka pada TarKom 2 hadir 5 (lima) komik yg bertarung, maksimal 20 halaman jadi total ada 100 halaman isi dalam TarKom 2. Dengan jumlah komik yg lebih sedikit dan jumlah halaman masing-masing komik menjadi lebih banyak, diharapkan masing-masing komikus yg ikut Tarung Komik menjadi lebih leluasa untuk menuangkan ide-idenya menjadi komik yg lebih baik daripada TarKom 1. Kali ini TarKom 2 di dukung oleh Jagoan Comic yg menyediakan hadiah-hadiahnya untuk para peserta Tarung Komik dan bapak Alvanov Zpalanzani dari Pengajian Komik DKV yg bertindak sebagai juri tunggal. Salut untuk mereka berdua. Kehadiran pak Alvanov yg jadi juri diharapkan akan menambah bobot dari komik TarKom 2.

Mari kita simak satu per satu komik-komik yg bertarung dalam TarKom2. Diantaranya menampilkan karya dari Prangg RN, Slence, Fyd Russel, Aldyy & Dhitta dan studio Rojo Lele. Juri telah memberi skor untuk masing-masing komik itu berdasarka kriteria karakter, story, visual storytelling, overall dengan kisaran dari skor 90 s/d 50.

Ketika pertama kali saya membaca komik ini pertanyaan yg muncul adalah mengapa Pragat Comic menyusun komik-komik itu dari urutan pertama sampai dengan tarakhir tidak mengikuti skor yg dibuat oleh juri yaitu komik dengan skor tertinggi, 90, ditempatkan di urutan pertama dan komik dgn skor terendah, 50, ditempatkan diurutan paling belakang? Pasti ada alasan tersendiri. Padahal urutan komik itu cukup penting untuk menarik pembaca komik. Jika anda pernah membeli album kaset lagu-lagu (bukan kaset kompilasi) dari seorang penyanyi, maka biasanya lagu jagoannya yg diharapkan jadi hits ditempatkan di urutan pertama atau setidak-tidaknya urutan ke-2 dan hampir tidak pernah ditempatkan di urutan terakhir. Hal ini atas pertimbangan pasar, setidaknya pendengar lagu-lagu itu akan mendengarkan lagu yang terenak didengar sebelum mendengarkan lagu-lagu lainnya. Seharusnya Pragat Comic juga menyusun komik-komik itu dimulai dari komik yang paling bagus, dan jika menurut penilaian juri maka komik karya Studio Rojo Lele yg berjudul Mahera dan Kitab Maharaja yang dipasang di depan karena mendapat skor tertinggi dari juri yaitu 90.

TarKom 2 dibuka oleh karya Prangg RN yg menampilkan judul The legend of Kutukupreth. Komik ini bercerita tentang asal-usul istilah Kutukupreth yg bersetting di jaman kerajaan. Cerita komik bersetting kerajaan masa lalu di Indonesia mengingatkan kita akan cerita komik karya Dwi Kundoro. Cerita mengalir dengan lancar dan pembangunan karakternya cukup baik. Saya dengan mudah dapat memahami ceritanya dan membedakan antara satu karakter dengan karakter yg lain. Pada awalnya cerita berjalan dengan baik namun diakhir cerita seperti dipaksakan untuk dikaitkan dengan istilah Kutukupreth, jadi terasa kurang enak. Menurut saya, visualisasi komik ini digarap dengan baik oleh Prangg RN. Mungkin karena itulah komik ini ditempatkan diurutan pertama. Yg terasa amat mengganggu adalah homur-homur jorok (tidak sopan) yg bertebaran disana-sini dan lelucon-lelucon yg OOT (out of topic) yg tidak pas dengan konteks cerita maupun settingnya di jaman kerajaan, jadinya seperti ada kekacauan waktu. Misalnya ketika seorang penggawa kerajaan berpesan ” Sering-sering kirim kabar pada kami pakai sms atau e-mail. Kalau mau irit pulsa pakai miss call aja nanti ditelpon balik”. Padahal kita tahu dijaman kerajaan belum ada teknologi telepon seluler (ponsel) ataupun internet. Si komikus mustinya bisa melihat bagaimana pak Dwi Koendoro dengan sangat pas membawa problematika yg terjadi di Indonesia masa kini untuk dibawa pada seeting kerajaan dimasa lalu tanpa terasa ada kekacauan waktu pada komik strip Panji Koming yg muncul setiap minggu di harian Kompas. Sedangkan lelucon jorok mengingatkan kita pada komik Kakek Bejo "Jangguter" yg sudah saya bahas beberapa waktu yg lalu. Rupanya Prangg RN tidak belajar dari komik Kakek Bejo yg banyak dikritik karena lelucon joroknya.

Sayang sekali, sebetulnya komik ini digarap secara visual dengan baik dan pada awalnya cerita dibangun dengan baik, namun ending cerita yg terasa dipaksakan dan lelucon-lelucon yg tidak pas membuat komik ini jadi kurang enak dibaca. Juri mengganjar komik ini dengan skor terendah dibanding komik2 yg bertarung lainnya yaitu 50 namun ditempatkan sebagai komik pembuka oleh Pragat Comic.

Komik yg kedua berjudul Scarlet Hood karya Slence. Gambar di komik ini bergaya manga dan ceritanya sangat sederhana dan datar, berkisah tentang seorang laki-laki yg hendak membalas dendam atas kematian ayahnya. Si lelaki itu mendatangi rumah seorang gadis yg bernama Scarlet untuk mencari informasi kemana perginya si pembunuh itu. Si lelaki itu ternyata dikuasai oleh roh jahat sehingga ia bisa menjadi berubah seperti manusia serigala. Scarlet mencoba mengalahkan kekuatan roh itu dengan ilmu Soul Detached namun sia-sia sampai akhirnya pamannya datang dan menyelamatkan si gadis.

Memperhatikan gambar di komik ini dan menyimak ceritanya, nampaknya si komikus sangat terpengaruh oleh komik-komik horor manga yg banyak bercerita soal roh. Pada awalnya cerita berjalan dengan lancar. Penokohan masing-masing tokoh juga sudah bagus namun ada beberapa hal yg kurang jelas dan perlu dijelaskan kepada pembaca komik. Misalnya apa yang dilakukan oleh si paman sehingga tiba-tiba si lelaki yg semula berujud manusia serigala menjadi manusia kembali atau apa yg dilakukan si gadis utk menyerang si lelaki itu. Dan mengapa tiba2 lelaki itu meninggalkan si gadis dan pamannya? Di sinilah pentingnya logika bercerita. Meskipun ceritanya datar bukan berarti boleh saja memasukkan adegan yg tidak ada alasannya alias ”ujug-ujug”. Ujug-ujug si lelaki itu pergi meninggalkan mereka tanpa alasan yg jelas. Cerita yg seperti ini tentunya terasa janggal dan mengganjal keasyikan pembaca yg membaca komik ini. Komik ini diganjar oleh juri dengan score yg cukup tinggi yaitu 82.

Komik ketiga berjudul Team Online karya Fyd Russel. Komik ini diawali dengan narasi yg cukup panjang sebagai pembukanya. Membaca narasi itu pembaca seakan-akan dijanjikan sebuah cerita yg seru dan dahsyat namun jika pembaca meneruskan ceritanya barangkali akan kecewa karena imajinasi yg sudah terlanjur dibangun oleh narasi itu menjadi hancur berkeping-keping. Bangunan cerita yg sudah bangus itu hancur karena si komikus tidak mampu menjabarkan cerita itu menjadi sebuah cerita komik yg menarik. Jadinya seperti hangat-hangat tahi ayam, bagus diawalnya tapi gagal dalam hal eksekusinya kedalam cerita. Storytelling komik ini juga kurang baik. Tidak jelas si komikus mau gambar adegan apa. Dibandingkan kedua komik sebelumnya, kedua komik itu unggul dalam hal storytelling meskipun komik yg kedua Scarlet, ceritanya lebih sederhana dan datar daripada komik yg ketiga. Memang membuat komik yg bagus tidak harus berpijak pada cerita-cerita yg luar biasa dan hebat-hebat. Dari cerita yg sederhana dan bercerita tentang kejadian sehari-hari yang ringan namun menarik juga bisa menjadi sebuah komik yg bagus. Ibarat orang membikin lagu, tidak harus membuat lagu dgn kisaran nada-nada lebar dan tingkat kesulitan yang tinggi. Dengan melodi yang easy listening dan nada-nada yg datar, dapat juga disusun komposisi lagu yg bagus.

Dari segi visualisasi pun, kedua komik sebelumnya juga lebih unggul. Komik ketiga ini digambar dengan garis-garis yang tidak tegas dan lettering yang buruk sehingga pembaca menjadi malas untuk meneruskan membaca komik ini. Lettering dalam komik seharusnya menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dgn gambar dan merupakan salah satu komponen penting dalam komik. Lettering yg buruk membuat pembaca kesulitan membacanya dan secara otomatis akan mengganggu pembaca utk menikmati ceritanya (kecuali komik bisu, komik tanpa teks sama sekali). Juri mengganjar komik ini dengan score 78, masih di bawah komik Scarlet namun jauh di atas komik pertama, Legenda Kutukupreth!

Komik yg keempat berjudul Bon Journee yg digambar oleh Aldyy dan cerita oleh Dhitaa. Komik ini bercerita tentang kisah cinta segitiga remaja perkotaan antara Rachel dengan Ryo dan Glenn. Sebuah kisah dengan tema yang ringan, sederhana dan dapat terjadi kepada siapa saja. Meskipun komik ini digambar dengan sederhana namun pembaca dapat mengikuti ceritanya dengan lancar. Dibanding ketiga komik sebelumnya, komik inilah yang menurut saya memiliki struktur cerita yang utuh, ada pembukannya, ada probelamatikanya dan ada juga penutupan. Kejadian Rachael bertemu dengan Glenn juga terasa cukup logis dan tidak ”ujug-ujug”. Komik ini ditutup dengan adegan dramatis di bandara dimana Ryo melepas Rachael sebelum ia terbang meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan sekolahnya di Singapura.

Storytelling komik ini sudah cukup baik dimana cerita mengalir dengan lancar. Karakter tokohnya sudah cukup kuat. Hanya saja penggarapan komik ini secara visual masih terasa lemah. Adegan dramatis di bandara ketika Ryo memeluk Rachael sebelum melepas pergi mengingatkan saya kepada adegan film yg sangat terkenal Ada apa dengan Cinta? Memang sangat sulit untuk membuat cerita yg benar-benar orisinil dan terbebas dari pengaruh yg lain. Komik ini diganjar score 78 oleh juri sama seperti komik Team Online.

Komik yg keempat berjudul Mahera dan Kitab Maharaja karya Studio Rojolele. Inilah komik jawara pada tarung komik kali ini. Juri mengganjarnya dengan score 90 jauh di atas score komik Legenda Kutukupreth. Mungkin Pragat Comic sengaja memasang komik jawara sebagai komik terakhir agar menjadi ”gong”-nya pada buku Tarung Komik 2. Kita sering lihat pada saat mengumuman kejuaraan suatu lomba atau lomba Ratu Sejagad atau Putri Indonesia, biasanya pemenang lomba disebutkan paling terakhir agar menjadi ”gong”-nya bahkan tidak jarang pengumuman itu di ulur-ulur agar penonton menjadi semakin penasaran. Lalu seperti apakah komik yg jadi jawara kali ini? Apakah komik ini memang benar-benar pantas menjadi jawara dan mendapat nilai setinggi itu?

Kisah komik ini bersetting di jaman dulu, mungkin di jaman kerajaan. Mengisahkan tentang seorang pendekar yg penasaran ingin berguru dengan seorang mpu yg sangat sakti. Si pendekar akhirnya dapat mengalahkan musuhnya dengan ilmu dari Kitab Maharaja, yang secara tidak sengaja dipelajarinya ketika ia membantu si mpu menyusun kitab itu.

Sama seperti komik yg keempat, Bon Journee, cerita komik ini dibangun dengan cerita utuh. Selain ide ceritanya yg seru, storytelling cerita ini juga sudah cukup baik. Struktur cerita ini sudah dibangun dengan baik. Meskipun dari segi cerita komik ini sudah baik namun kelemahan utama komik ini justru pada gambarnya, meskipun si komikus sudah mampu membuat gambar yang mudah dicerna pembaca komik, namun gambarnya kurang bagus. Menurut saya, gambarnya Prangg RN dari komik Legenda Kutukupreth, justru yg paling bagus. Namun gambar yang bagus tidak selalu menjamin komik yg bagus pula. Di halaman terakhir komik Mahera dan Kitab Maharaja ini, si komikus sempat membuat ”pengait” yg dapat menghubungkan komik ini dengan komik-komik yang (mungkin) akan dibuat oleh si komikus. Alhasil, komik ini diganjar dengan skor tertinggi yaitu 90 oleh Juri dan menjadi jawara pada tarung komik kali ini.

Pada Tarung Komik ke-2 ini, umumnya para komikus sudah cukup baik ketika mengawali cerita komiknya namun beberapa komikus ada yg kedodoran ketika mulai memasuki pertengahan cerita dan ada yg seperti dipaksakan untuk menyelesaikan komiknya (Legenda Kutukupreth dan Scarlet Hood). Sedangkan dari segi visual yg paling parah adalah komik Team Online. Selain gambarnya rumit dan tidak jelas mau gambar apa, lettering yang buruk juga membuat pembaca semakin malas untuk membaca komik itu meskipun komik ini punya ide cerita yang hebat. Kalau komikus tidak punya tulisan tangan yg bagus, seharusnya lettering itu diganti saja dgn tulisan komputer.


Point-point yang bisa kita petik dari pergelaran tarung komik ini al :
1. Para peserta Tarung Komik semuanya membuat komik pendek dengan maksimal 20 halaman. Komik pendek bukan berarti komik panjang yg dipendek-pendekin. Bukan cerita panjang yg dipotong pendek. Komik pendek harus mempunyai struktur cerita yg utuh seperti komik panjang misalnya ada pembukaannya, introductionnya, permasalahannya, penyelesaian masalahnya, penutupannya dan sebagainya. Dengan ruangan yg lebih sempit (20 halaman) si komikus harus membangun komik yg utuh spt komik panjang dan banyak komikus yg gagal membangun cerita komik pendek yg utuh karena sempitnya ruang.
2. Membuat komik yg bagus tidak harus selalu dimulai dengan ide cerita yg hebat-hebat. Komik Bonn Journee sudah membuktikan bahwa dengan ide cerita yg ringan dan sederhana yaitu kisah cinta segitiga anak remaja perkotaan, dapat membuat komik yg menarik. Banyak juga komikus senior yg membuat komik yg menarik yg beranjak dari ide cerita yg sederhana. Contohnya adalah komik Curhat Tita karya mbak Tita Larasati.
3. Sebuah ide cerita yg hebat tidak akan pernah menjadi komik yang menarik jika pada saat eksekusinya kurang digarap dengan baik misalnya lemah dalam pengembangan ceritanya, lemah dalam storytellingnya, lemah dalam aspek visualisasinya atau lemah dalam letteringnya. Komik Team Online, dengan ide ceritanya yg hebat, sepertinya menjanjikan komik yang menarik namun karena tahap eksekusinya lemah maka ide cerita yang hebat itu hanya tinggal di awang-awang saja tidak turun ke bumi.

Demikianlah sekilas resensi saya tentang Tarung Komik Kedua ini. Harapan saya, kita bisa belajar banyak dari karya-karya para Petarung Komik dan tidak mennyurutkan semangat mereka untuk bikin komik. Saya mengucapkan terima kasih kepada Pragat Comic, yang dengan kesederhanaannya, tetap terus bersemangat mengadakan acara Tarung Komik. Ucapan terima kasih saya sampaikan juga kepada mas Alvanov Zpalanzani yg sudah bersedia menjadi juri Tarung Komik dan Jagoan Comic yang sudah menjadi pendukung di TarKom 2.

Saat ini Tarung Komik ke-3 tengah berlangsung. Mari sama-sama kita tunggu seperti apa komik-komik yang akan tampil nanti. Mudah-mudahan karya-karya mereka lebih baik daripada para Petarung Komik ke-2 ini.

 

Diresensi oleh Sandy : www.sandyjatmiko.multiply.com

 

 
< Prev   Next >
5 Top Artikel
5 Top Creator
5 Top Comic Book
Seputar Tarung Komik
ShoutBox
This is not a Login form

Name:

Message:

Social Bookmark
MyTagzMisterwongOneviewAlltagzLinkarenaYiggDeliciousTechnoratiFurlYahoo_mywebGoogle_bmarksBlinklistMagnoliaWindows_liveDiggNetscapeStumbleuponNewsvineRedditTailrankSpurlWas ist Social Bookmarking